Selasa, 15 Mei 2012

IUD dengan perforasi

TUGAS PELAYANAN KB
IUD DENGAN PERFORASI
Dosen Pembimbing : Wahyu Pujiastuti, S. SiT

Disusun Oleh :
1. Lilis Tiani                              : P. 174. 24. 210. 050
2. Lina Sektiyani                      : P. 174. 24. 210. 051
3. Namila Dinni S                     : P. 174. 24. 210. 056
4. Nourmalita Anggia D           : P. 174. 24. 210. 057
5. Nugraeni F                            : P. 174. 24. 210. 062
6. Nuraini                                  : P. 174. 24. 210. 063
7. Nurul Aziza A                      : P. 174. 24. 210. 068
8. Nurul Fatimah                      : P. 174. 24. 210. 069

Kelas Gardenia
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG
PRODI D III KEBIDANAN MAGELANG
TAHUN 2012

IUD DENGAN PERFORASI
KASUS
Ny. A umur 30 tahun P2A0 , Akseptor IUD 6 bulan datang ke bidan dengan keluhan perdarahan di luar siklus haid dan ibu tidak bisa meraba dan tidak bisa melihat benang ekor IUD. 
A.    Data Fokus
1.      Data Subyektif
a.       Ibu datang dengan keluhan perdarahan diluar siklus menstruasi. Hal ini terjadi karena perlukaan pada dinding rahim dikarenakan IUD yang menembus dinding rahim. (Hanafi, 2003)
b.              Ibu datang dengan keluhan tidak bisa meraba dan tidak bisa melihat benang ekor IUD serta adanya perdarahan. Hal ini terjadi karena IUD keluar menembus dinding rahim sehingga benang naik ke atas dan tidak terlihat dari mulut rahim (portio). (Hanafi,2003)
2.      Data Obyektif
a.      Setelah dilakukan pemeriksaan ternyata keluar darah melalui jalan lahir (pervaginam). Hal ini terjadi karena perlukaan pada dinding rahim dikarenakan  IUD yang menembus dinding rahim. (Hanafi, 2003)
b.      Setelah dilakukan pemeriksaan ternyata benang tidak terlihat. Hal ini terjadi karena IUD keluar menembus dinding rahim sehingga benang naik ke atas dan tidak terlihat dari mulut rahim (portio). (Hanafi, 2003)
3.      Pemeriksaan Penunjang
Dalam hal ini pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah Pemeriksaan USG (Ultrasonografi). Pemeriksaaan USG dilakukan setelah rujukan karena bidan tidak memiliki wewenang untuk melakukan pemeriksaan USG di BPM.
4.      Diagnosa Nomenklatur
Akseptor KB IUD dengan perforasi
5.      Diagnosa Potensial
Bidan menentukan diagnosa dan masalah potensial yang mungkin terjadi berdasarkan diagnosa dan masalah yang ditentukan tersebut. Selain itu juga menentukan tindakan untuk mengantisipasi terjadinya masalah / mencegahnya jika memungkinkan.
Dignosa potensial pada IUD dengan perforasi yaitu terjadinya Dislokasi dan translokasi (IUD berpindah tempat). Translokasi IUD yaitu masuknya IUD kedalam rongga perut sebagian atau seluruhnya biasanya karena adanya perlubangan pada rahim (perforasi uterus). Hal ini paling sering terjadi pada waktu pemasangan (insersi) IUD yang kurang hati – hati atau karena adanya lokus minorus pada dinding rahim atau pada waktu usaha pengeluaran yang sulit.
Perforasi dengan translokasi IUD sebagaian besar tidak menimbulkan gejala, kebanyakan baru diketahui setelah beberapa kali periksa ulang dimana benang tidak terlihat. Perforasi lebih sering terjadi :
a.     pada IUD jenis tertutup
b.    pada pemasangan paska persalinan dan masa laktasi.
c.      pada kelainan letak uterus yang tidak diketahui
Sikap sebagian besar ahli IUD mengenai translokasi ini adalah sebagai berikut :
a.    Karena IUD yang tertutup ( closed IUD ) yang berlubang dapat menimbulkan obstruksi usus ( illues ) sebaiknya segera dikeluarkan dengan jalan laparaskopi, kuldoskopi atau minilaparotomi
b.    IUD  yang mengandung ion – ion tembaga ( copper ) karena dapat menimbulkan perlekatan – perlekatan organ dalam perut, sebaiknya segera dikeluarkan seperti diatas.
c.    IUD jenis dan bentuk terbuka ( open IUD ) jika tidak ada gejala dan akseptor dapat diberi pengertian, pengeluaran IUD tidak perlu terburu – buru. Kecuali bila akseptor oleh karena ini menjadi tidak tenang, dan meminta dikeluarkan, adalah kewajiban kita mengeluarkannya. (Mochtar, 1995)
6.      Antisipasi Tindakan Segera , Konsultasi dan Kolaborasi
Bidan menentukan tindakan apa yang harus segera dilakukan atau tindakan emergensi sesuai kondisi klien.
Bidan bisa menentukan konsultasi dengan tenaga profesional lain jika memang diperlukan.
Bidan menentukan kebutuhan kolaborasi dengan dokter untuk klien dengan masalah kesehatan atau penyakit yang dialami.
Melakukan antisipasi tindakan dari diagnosa masalah yang ditemukan, misalnya segera merujuk klien dengan perforasi IUD.
7.      Penanganan di Tempat Rujukan
a.       Penanggulangan Perforasi IUD :
1.    Perforasi partial : Mengeluarkan IUD.
2.    Perforasi komplit, jenisnya :
a.    Closed devices
Harus segera dikeluarkan karena bahaya peradangan uterus, IUD tertutup yang sudah berlubang dapat menimbulkan obstruksi usus ( ileus ), maka sebaiknya segera dikeluarkan dengan jalan laparoskopi, kuldoskopi atau minilaparotomi.
b.    Cu devices
Harus segera dikeluarkan oleh karena bahaya timbulnya reaksi inflamasi dan adhesi sekitar IUD di dalam rongga peritoneum (adhesi omentum). Juga dapat menimbulkan perlekatan organ dalam perut.
c.    Open - linear devices
Sampai sekarang masih ada dua pendapat menurut Medical Advisory Panel IPPF, yaitu :
1)        Tidak perlu dikeluarkan, kecuali bila ada gejala-gejala dan keluhan pada perut (abdominal).
2)        Harus dikeluarkan meskipun tidak ada gejala-geiala dan keluhan pada perut (abdominal). Alasan : Pada saat pemasangan (insersi), ada kuman-kuman yang masuk,  kemudian mempertahankan diri dalam suatu "kepompong" dan pada suatu saat dapat menimbulkan infeksi.

b.      Pra Rujukan
1.    Memberitahu pada ibu dan keluarga tentang keadaan ibu saat ini bahwa ibu mengalami perlubangan pada rahim karena IUD yang dipasang menembus rahim (perforasi uterus karena IUD).
2.    Memberitahu kepada ibu efek samping dari pemasangan IUD yaitu rasa sakit atau nyeri, muntah, keringat dingin, pingsan (syncope), dan perlubangan pada rahim (perforasi uterus).
3.    Memberikan dukungan moril dengan cara memberikan support pada ibu dan keluarga serta dukungan materiil kepada ibu dan keluarga dengan cara mengajukan bantuan ke BKKBN.
4.    Menjelaskan tentang tindakan yang akan dilakukan di BPM yaitu memberikan konseling, memperbaiki keadaan umum, memberikan analgetik, dan menjelaskan tentang tindakan yang akan dilakukan tempat rujukan.
5.    Memperbaiki keadaan umum pasien dengan memberikan makan, minum, dan analgetik (asam mefenamat 500 mg 3X1)
6.    Menjelaskan pada keluarga tentang kelengkapan administrasi dan rujukan.
c.       Di Tempat Rujukan
1.      Melakukan pemeriksaan Rontgen Abdomen atau USG
                    Film tiga posisi (terlentang, tegak, dan dekubitus lateral) dapat menunjukkan adanya udara bebas atau cairan bebas didalam rongga peritoneum. Alat kontrasepsi dalam rahim dapat terlihat.
Jika dicurigai terjadi perlubangan (perforasi), lokasi IUD harus ditentukan menggunakan ultrasonografi. Jika pemeriksaan ini menunjukkan bahwa IUD telah menembus rahim (uterus) dan seluruh atau sebagian telah berada didalam rongga panggul (pelvik abdomen), IUD harus dikeluarkan karena tembaga dapat menyebabkan reaksi jaringan yang menyebabkan perlengketan di dalam rongga perut (intraperitonial). Pengeluaran digunakan dengan menggunakan laparoskop untuk mencari IUD atau melakukan laparotomi. (Derek Llewellyn-Jones. 2002. Dasar – Dasar Obstetri Dan Ginekologi. Jakarta : Penerbit Hipocrates).
2.      Ada kehamilan : Memeriksa dengan ultrasonografi
3.      Tidak ada kehamilan :
Melakukan sondage cavum uteri :
·      Sondage positif : IUD intra uterin
·      Sondage negative :
-     X-Foto pelvis dengan sonde in utero, atau memasukkan IUD macam lain intra uteri
-     Histerografi, untuk menentukan apakah AKDR terletak di dalam atau di luar cavum uteri
-     Histeroskopi
-     Ultrasonografi
4.      Memberikan cairan intravena.
5.      Mempersiapkan transfusi darah.
6.      Memberikan antibiotik.
7.      Melakukan pembedahan abdomen eksplorasi.
8.      Follow Up dari Penanganan
a.         Memberitahu kepada ibu dan keluarga keadaan ibu saat ini.
b.        Melakukan perawatan luka serta mengajarkan pada ibu cara merawat luka.
c.         Menganjurkan ibu untuk memenuhi asupan nutrisi.
d.        Menganjurkan ibu untuk minum obat secara teratur dan istirahat yang cukup.
e.         Memberikan konseling kepada ibu tentang KB yang aman digunakan setelah ibu mengalami perforasi karena IUD yaitu dengan menggunakan metode kontrasepsi non hormonal. Karena  
f.         Menganjurkan ibu untuk kontrol sesuai anjuran dokter.
g.        Pendidikan kesehatan mengenai hal-hal yang sebaiknya dihindari setelah operasi, misal berhubungan seksual.

Ibu dikatakan sembuh apabila :
a.    Tidak ditemukan tanda-tanda infeksi
b.    Perdarahan karena perforasi sudah berhenti
c.    Setelah dilakukan pemeriksaan dengan palpasi abdomen, ibu tidak merasakan nyeri tekan.






DAFTAR PUSTAKA
Mochtar, Rustam. 1995. Sinopsis Obstetri. Jakarta : EGC.
Scott, James R, dkk. 2002. Buku Saku Obstetri Ginekologi. Jakarta : Widya Medika.
Wiknjosastro, Hanifa. 2007. Ilmu Kandungan. Jakarta : Yayasan Bina Pusataka Sarwono Prawirohardjo.
Hartanto, Hanafi. 2002. Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.
Cunningham, F. Gary, dkk. .... Obstetri Williams Edisi 21. Jakarta : EGC.
Llewellyn, Derek, dkk. 2002. Dasar-dasar Obstetri dan Ginekologi. Jakarta : Peneerbit Hipocrates





Kamis, 19 April 2012

persiapan yang dibutuhkan dalam menghadapi persalinan


A. Pengertian
Persiapan persalinan adalah persiapan tindakan yang dibuat ibu,anggota keluarganya dan bidan. Dengan adanya persiapan persalinan akan mengurangi kebingungan dan kekacauan pada saat persalinan dan meningkatkan kemungkinan bahwa ibu akan menerima asuhan yang sesuai serta tepat waktu.

B. Tempat persalinan
Ø tempat melahirkan hendaknya disesuaikan dengan jarak tempuh dari rumah untuk memperkirakan waktu sampai ke rumah sakit.
Ø kalau perlu, lakukan tour kecil-kecilan ke tempat tersebut untuk melihat suasananya. Penting sekali bagi ibu untuk merasa nyaman bila melakukan persalinan di tempat itu.
Ø perhatikan kepadatan lalu lintas pada jam-jam tertentu sehingga dapat mempersiapkan jalur alternatif untuk sampai ke tempat persalinan.
Ø prosedur masuk, fasilitas yang ada, biaya persalinan.
Ø lokasi kamar bersalin, agar dalam keadaan darurat mempercepat sampai ke tempat tujuan
Ø tempat plasenta (ari-ari) harus sudah direncanakan di mana plasenta akan diurus, apakah di rumah atau di tempat bersalin. Biasanya sudah disiapkan di tempat bersalin.
Tempat bersalin yang dapat digunakan antara lain rumah sakit, rumah bersalin, BPM (Bidan Praktek Mandiri), PKD (Poliklinik Kesehatan Desa), dan Puskesmas.
C. Penolong persalinan
Ditentukan oleh ibu hamil, nilai resiko kehamilan, jenis persalinan yang direncanakan.
Ø memilih tenaga kesehatan terlatih.
Ø bagaimana cara menghubungi tenaga kesehatan terlatih tersebut.
     Penolong persalinan antara lain bidan dan dokter spesialis kandungan.



D. Peralatan untuk ibu dan bayi
Barang-barang yang diperlukan ibu :
Ø Baju tidur.
     Bawalah baju tidur yang nyaman untuk dipakai, sebaiknya yang mempunyai kancing di bagian depan. Bawalah baju tidur dengan jumlah yang cukup.
Ø Satu set baju untuk ibu pulang dari rumah sakit.
     Ibu mungkin masih terlihat seperti hamil, karena butuh waktu untuk tubuh kembali ke bentuk semula. Untuk itu bawalah baju yang nyaman, dan tidak sempit.
Ø Alas kaki.
     Untuk menjaga kaki tetap hangat.
Ø Pakaian dalam.
Ø Pembalut wanita khusus untuk ibu bersalin.
Ø Gurita atau korset untuk ibu bersalin.
Ø Handuk.
Ø Perlengkapan mandi.

Keperluan untuk bayi :
Biasanya keperluan bayi akan disediakan oleh rumah sakit. Ibu cukup menyediakan
            persiapan untuk pulang dari rumah sakit.
Ø Popok.
Ø Baju bayi.
Ø Selimut.
Ø Kaos kaki dan tangan.
Ø Gurita bayi.
Ø Bedongan bayi.
Ø Perlak.

E.      Transportasi untuk mempermudah persalinan jika terjadi kegawat daruratan
          Transportasi dapat menggunakan kendaraan pribadi. Bila tidak punya kendaraan pribadi, pastikan ibu atau keluarga sudah menganggarkan untuk transportasi pada saat persalinan (sewa mobil, taksi, atau ambulans). Rencana ini perlu dipersiapkan lebih dini sebelum persalinan dan harus terdiri dari elemen-elemen dibawah ini:
·Dimana ibu akan bersalin (desa, fasilitas kesehatan, rumah sakit).
·Bagaimana cara menjangkau tingkat asuhan yang lebih lanjut jika terjadi kegawat daruratan.
·Ke fasilitas kesehatan yang mana ibu tersebut harus dirujuk.

F.      Penanggung jawab atau pendamping persalinan
·      Dukungan pendampingan persalinan, dibagi menjadi :
a.    Dukungan fisik adalah dukungan langsung berupa pertolongan langsung yang diberikan oleh keluarga atau suami kepada ibu bersalin.
b.    Dukungan emosional adalah dukungan berupa kehangatan, kepedulian maupun ungkapan empati yang akan menimbulkan keyakinan bahwa ibu merasa dicintai dan diperhatikan oleh suami, yang pada akhirnya dapat berpengaruh kepada keberhasilan.
·      Pertimbangan dalam memilih pendamping
Ibu mengetahui dan mempersiapkan siapa yang akan mendampinginya dalam proses persalinan dan harus dipastikan. Sebaiknya suami, tapi kalau karena suatu hal suami tidak mungkin berada di sisi Ibu, atau memang Ibu ingin ada orang lain selain suami, mungkin orangtua, adik, kakak, dan  teman bisa dipilih. Siapapun orangnya, pilih yang Ibu percaya dan mampu memberi dukungan saat menjalani proses persalinan serata bisa menyamankan kondisi ibu. Mereka harus berani melihat Ibu kesakitan. Lebih baik lagi kalau mereka memahami rencana persalinan Ibu dan mampu mengambil keputusan jika ada hal yang tidak sesuai rencana. Jangan lupa, beritahukan tanggal perkiraan persalinan, supaya mereka bisa cuti atau izin dari pekerjaannya untuk mendampingi Ibu.
Diharapkan ibu tinggal konsentrasi pada persalinan saja. Urusan lain, agar suami yang mengambil alih. Jadi, Ibu tidak stress memikirkan ini dan itu. Ibu hamil dengan tingkat stress rendah, lebih memungkinkan melakukan persalinan alami. Dukungan suami dalam proses persalinan akan memberi efek pada sistem limbic ibu yaitu dalam hal emosi, emosi ibu yang tenang akan menyebabkan sel-sel neuronnya mensekresi hormon oksitosin yang reaksinya akan menyebabkan kontraktilitas uterus pada akhir kehamilan untuk mengeluarkan bayi.
·      Yang harus dilakukan oleh pendamping
Orang yang Ibu minta mendampingi Ibu saat persalinan,  punya tanggung jawab besar. Ia harus siap mental dan fisik untuk menghadapi saat persalinan, sama seperti Ibu. Berikut adalah hal-hal yang perlu diperhatikan oleh pendamping ibu:
ü Setidaknya ia harus sudah mengikuti kelas prenatal.
ü Memahami rencana persalinan Ibu
ü Bisa membantu memijat punggung Ibu untuk membuat ibu nyaman.
Diketahui bahwa ibu-ibu yang mendapatkan massase dan pendampingan mengalami penurunan kejadian depresi, kecemasan dan nyeri serta perasaan yang positif. Pada kondisi ini ibu yang mendapatkan sentuhan berdampak signifikan terhadap lama persalinan lebih pendek (yaitu 8 jam dibandingkan dengan ibu yang persalinannya tidak didampingi waktu persalinannya 11  jam), menurunkan angka kejadian persalinan dengan tindakan, memperpendek waktu perawatan di RS dan mengurangi kejadian depresi post partum..
ü Membuat rencana pembuatan keputusan jika terjadi kegawat daruratan pada saat pembuat keputusan utama tidak ada.
Ø siapa pembuat keputusan utama dalam keluarga.
Ø siapa yang akan membuat keputusan jika si pembuat keputusan utama tidak ada saat terjadi kegawat daruratan.
·      Peran pendamping:
a.       Mengatur posisi ibu, dengan membantu ibu tidur miring atau sesuai dengan keinginan ibu disela-sela kontraksi dan mendukung posisi ini agar dapat mengedan secara efektif saat relaksasi.
b.      Mengatur nafas ibu, dengan cara membimbing ibu mengatur nafas saat kontraksi dan beristirahat saat relaksasi.
c.       Memberikan asuhan tubuh dengan menghapuskan keringat ibu, memegang tangan, memberikan pijatan, mengelus perut ibu dengan lembut.
d.      Memberi informasi kepada ibu tentang kemajuan persalinan.
e.       Menciptakan suasana kekeluargaan dan rasa aman.
f.       Membantu ibu ke kamar mandi
g.      Memberikan cairan dan nutrisi sesuai keinginan ibu.
h.      Memberikan dorongan spiritual dengan ikut berdoa.
i.        Memberi dorongan semangat mengejan saat kontraksi serta memberikan pujian atas kemampuan ibu saat mengejan.


G. Uang / biaya
Keluarga seharusnya dianjurkan untuk mempersiapkan sejumlah uang sehingga dana akan tersedia untuk asuhan selama kehamilan dan jika terjadi kegawat daruratan. Banyak sekali kasus, dimana ibu tidak mencari asuhan atau mendapatkan asuhan karena mereka tidak mempunyai dana yang diperlukan.
Persalinan normal umumnya membutuhkan biaya yang relatif ringan. Namun, bila persalinan diperkirakan harus dilakukan dengan tindakan operatif, maka persiapan dana yang lumayan besar harus segera dilakukan. Untuk mengetahui apakah nanti akan dilakukan sesar, pasangan harus selalu berkonsultasi ke dokter. Lewat konsultasi ini diharapkan, segala kemungkinan yang bakal terjadi bisa lebih dicermati. Bila diperkirakan lahir dengan sesar, pasangan tentunya sudah mempersiapkan dananya sejak jauh hari. Bila dana sudah terkumpul, otomatis beban mental suami juga bisa lebih teratasi.
Sumber biaya persalinan dapat dari beberapa sumber misalnya :
-       Tempat Kerja
Perlu diperhatikan jika memang biaya persalinan ditanggung oleh instansi kerja yaitu biaya meliputi semua atau hanya ditanggung sebagian. Dengan begitu ibu dan keluarga bisa memperkirakan berapa biaya yang mesti disiapkan untuk perawatan persalinan. Kalau perlu periksa juga apakah penggantian tersebut juga mengganti biaya-biaya yang ibu keluarkan untuk kunjungan ke dokter kandungan.

-    Tabungan Ibu Bersalin (Tabulin)
Ibu dan suami harus menyiapkan dana persalinan itu. Ada dua cara menabung yang bisa digunakan. Yang pertama adalah dengan menabung secara rutin setiap bulan. Yang kedua adalah dengan menabung sekali saja. Cara kedua bisa digunakan kalau pada saat itu ibu dan suami sudah memiliki sejumlah dana yang bisa dimanfaatkan.
Tempat menabung juga harus diperhatikan.  Hanya ada dua produk investasi yang disarankan: yang pertama adalah tabungan. Ini karena tabungan tidak akan berkurang nilai nominalnya dan bisa diambil sewaktu-waktu. Bila dilakukan investasi sekali saja, maka ibu mungkin bisa memasukkan uang ke alternatif investasi yang kedua, yaitu deposito. Dipilih deposito dengan jangka waktu yang pendek-pendek saja, seperti deposito berjangka waktu satu bulan. Dengan demikian, setiap satu bulan sekali ibu bisa mengevaluasi apakah akan tetap menaruh uang di deposito itu, atau mengambilnya apabila diperlukan.
Tidak hanya biaya persalinan yang perlu disiapkan. Penting juga agar mempersiapkan dana untuk segala macam keperluan bayi selama beberapa bulan pertama seperti sabun, bedak, baby oil, sampo, pakaian dan lain-lainnya. Sedangkan untuk biaya kebutuhan biaya sehari-hari seperti susu dan makanan bayi, sebaiknya dimasukkan dalam anggaran belanja bulanan sehari-hari.
-       Asuransi Jiwa atau Asuransi Kesehatan
Bila suami ibu adalah satu-satunya pencari nafkah dalam keluarga, sarankan ia untuk segera memiliki asuransi jiwa. Santunan asuransi jiwa bisa digunakan untuk membayar pengeluaran keluarga akibat meninggalnya si pencari nafkah. Dan yang terpenting, santunan asuransi jiwa juga bisa mengganti pembayaran biaya persalinan dan segala macam pengeluaran untuk keperluan bayi nanti.
 H. Pendonor darah
Donor danah tidak kalah penting untuk dipersiapkan jauh-jauh hari sebelum persalinan. Ini dilakukan untuk antisipasi jika sewaktu-waktu terjadi kegawatdaruratan. Pendonor darah bisa dari keluarga terdekat atau pun orang lain seperti tetangga. Selain itu, dapat juga memanfaatkan donor darah di desa atau kelurahan yang sudah terbentuk kelompok donor darah sukarela. Dan ditekankan pula bahwa pendonor darah harus mempunyai golongan darah yang sama dengan ibu.

promosi kesehatan ( pendekatan edukasional dalam promosi kesehatan )


A.    PENGERTIAN PROMOSI KESEHATAN
Promosi kesehatan/pendidikan kesehatan merupakan cabang dari ilmu kesehatan yang mempunyai dua sisi, yakni sisi ilmu dan sisi seni. Dilihat dari sisi seni, yakni praktisi atau aplikasi pendidikan kesehatan adalah merupakan penunjang bagi program-program kesehatan lain. Ini artinya bahwa setiap program kesehatan yang telah ada misalnya pemberantasan penyakit menular/tidak menular, program perbaikan gizi, perbaikan sanitasi lingkungan, upaya kesehatan ibu dan anak, program pelayanan kesehatan dan lain sebagainya sangat perlu ditunjang serta didukung oleh adanya promosi kesehatan.
Promosi kesehatan bukanlah hanya proses penyadaran masyarakat atau pemberian dan peningkatan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan semata, akan tetapi di dalamnya terdapat usaha untuk dapat memfasilitasi dalam rangka perubahan perilaku masyarakat. Dalam hal ini organisasi kesehatan dunia WHO telah merumuskan suatu bentuk definisi mengenai promosi kesehatan :
“ Health promotion is the process of enabling people to increase control over, and improve, their health. To reach a state of complete physical, mental, and social, well-being, an individual or group must be able to identify and realize aspirations, to satisfy needs, and to change or cope with the environment “. (Ottawa Charter,1986).
Jadi, dapat disimpulkan dari kutipan tersebut diatas bahwa Promosi Kesehatan adalah proses untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Selain itu untuk mencapai derajat kesehatan yang sempurna, baik fisik, mental, dan sosial, maka masyarakat harus mampu mengenal serta mewujudkan aspirasinya, kebutuhannya, dan mampu mengubah atau mengatasi lingkungannya (lingkungan fisik, sosial budaya dan sebagainya).
Selanjutnya, Australian Health Foundation merumuskan batasan lain pada promosi kesehatan sebagai berikut :
“ Health promotion is programs are design to bring about “change”within people, organization, communities, and their environment ”.
Artinya bahwa promosi kesehatan adalah program-program kesehatan yang dirancang untuk membawa perubahan (perbaikan), baik di dalam masyarakat sendiri, maupun dalam organisasi dan lingkungannya.
Dengan demikian bahwa promosi kesehatan adalah kombinasi berbagai dukungan menyangkut pendidikan, organisasi, kebijakan dan peraturan perundangan untuk perubahan lingkungan dan perilaku yang menguntungkan kesehatan (Green dan Ottoson,1998). Promosi kesehatan merupakan proses pemberdayaan masyarakat agar mampu memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Proses pemberdayaan tersebut dilakukan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat; Artinya proses pemberdayaan tersebut dilakukan melalui kelompok-kelompok potensial di masyarakat, bahkan semua komponen masyarakat. Proses pemberdayaan tersebut juga dilakukan dengan menggunakan pendekatan sosial budaya setempat. Proses pembelajaran tersebut juga dibarengi dengan upaya mempengaruhi lingkungan, baik lingkungan fisik termasuk kebijakan dan peraturan perundangan.
Promosi kesehatan mencakup baik kegiatan promosi (promotif), pencegahan penyakit (preventif), pengobatan (kuratif), maupun rehabilitasi.


B.     PENDEKATAN DALAM PROMOSI KESEHATAN
Beraneka model promosi kesehatan dan pendidikan kesehatan adalah alat analisis yang berguna, yang dapat membantu memperjelas tujuan dan nilai promosi kesehatan. Terdapat lima pendekatan bagi promosi kesehatan yang menunjukkan nilai yang melekat pada masing-masing pendekatan tersebut, yang terdiri dari :
1.      Pendekatan Medik
Tujuan dari pendekatan ini adalah kebebasan dari penyakit dan kecacatan yang didefinisikan secara medik, seperti penyakit infeksi, kanker dan penyakit jantung. Pendekatan ini melibatkan intervensi kedokteran untuk mencegah atau meringankan kesakitan, mungkin dengan menggunakan metode persuasif maupun paternalistik sebagai contoh, memberitahu orangtua agar membawa anak mereka untuk imunisasi, wanita untuk memanfaatkan klinik keluarga berencana dan pria umur pertengahan untuk dilakukan screening tekanan darah. Pendekatan ini memberikan arti penting dari tindakan pencegahan medik, dan tanggung jawab profesi kedokteran untuk membuat kepastian bahwa pasien patuh pada prosedur yang dianjurkan.
2.      Pendekatan Perubahan Perilaku
Tujuannya adalah merubah sikap dan perilaku individual masyarakat, sehingga mereka mengambil gaya hidup sehat (sebagaimana didefinisikan oleh petugas kesehatan atau organisasi yang mempekerjakan petugas kesehatan). Contoh-contoh termasuk mengajari orang bagaimana menghentikan merokok, pendidikan tentang minumn beralkohol, mendorong orang untuk melakukan latihan olahraga, memelihara gigi, makan makanan yang baik, dan seterusnya. Orang-orang yang menerapakan pendekatan ini akan merasa yakin bahwa gaya hidup sehat merupakan hal paling baik bagi kliennya dan akan melihatnya sebagai tanggung jawab merekan untuk mendorong sebanyak mungkin orang guna mengadopsi gaya hidup sehat yang mereka anjurkan.
3.      Pendekatan Educational
Tujuannya adalah memberikan informasi dan memastikan pengetahuan dan pemahaman tentang perihal kesehatan, dan membuat mungkin keputusan ditetapkan atas dasar informasi yang ada. Informasi tentang kesehatan disajikan, dan orang dibantu untuk menggali nilai dan sikap, dan membuat keputusan mereka sendiri. Bantuan dalam melaksanakan keputusan-keputusan itu dan mengadopsi praktik kesehatan baru dapat pula ditawarkan. Program pendidikan kesehatan sekolah misalnya, menekankan membantu murid mempelajari ketrampilan hidup sehat, tidak hanya memperoleh pengetahuannya. Orang-orang yang mendukung pendekatan ini akan memberi arti tinggi proses pendidikan, akan menghargai hak individu untuk memilih perilaku mereka sendiri, dan akan melihatnya sebagai tanggung jawab mereka menngangkat bersama mereka persoalan-persoalan kesehatan yang mereka anggap menjadi hal yang paling baik bagi klien mereka.
4.      Pendekatan Berpusat Pada Klien
Tujuannya adalah bekerja dengan klien agar dapat membantu mereka mengidentifikasi apa yang mereka ketahui dal lakukan, dan membuat keputusan dan pilihan mereka sendiri sesuai dengan kepentingan dan pilihan mereka. Peran promotor kesehatan adalah bertindak sebagai fasilitator, membantu orang mengidentifikasi kepedulian-kepedulian mereka dan memperoleh pengetahuan dan ketrampilan yang mereka butuhkan agar memungkinkan terjadi perubahan. Pemberdayaan diri sendiri klien dilihat sebagai sentral dari tujuan ini. Klien dihargai sama yang mempunyai pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan berkontribusi, dan siapa yang mempunyai hak absolut untuk mengontrol tujuan kesehatan mereka sendiri.
5.      Pendekatan Perubahan Sosietal
Tujuan dari pendekatan ini adalah melakukan perubahan-perubahan pada lingkungan fisik, sosial dan ekonomi, supaya dapat membuatnya lebih mendukung untuk keadaan yang sehat. Pusatnya adalah mengubah masyarakat, bukan pada pengubahan perilaku individu-individunya. Orang-orang 7yang menerapakan pendekatan ini memberikan nilai penting bagi hak demokrasi mereka mengubah masyarakat, mempunyai komitmen pada penempatan kesehatan dalam agenda politik di berbagai tingkat dan pada pentingnya lingkungan yang sehat daripada pembentukan kehidupan individu-individu orang yang tinggal di tempat itu.